sahabat yang berkelana untuk berbagi dan menginspirasi

Thailand, Bukan Thailand

Apa yang terlintas ketika mendengar “Negara Thailand” disebut? Negeri Seribu Pagoda, Negeri Gajah Putih, atau wisata pantainya yang memukau atau deretan makan enak seperti mango sticky rice, Thai tea,  bahkan Tom Yum atau malah Cabaret show para Lady Boy?

Sebelum bernama Thailand, wilayah ini pernah dikenal dengan nama Kerajaan Siam. Kerajaan tersebut mendapat pengaruh budaya dari Tiongkok dan India. Mayoritas warganya beragama Budha. Dengan begitu banyak kuil atau pagoda atau temple yang menjadi tempat sembahyang  umat Budha. Karena pengaruh budaya itulah patung-patung Budha di Thailand bermata sipit. Seribu pagoda itulah yang menjadi salah satu daya tarik para turis berkunjung ke negeri ini.

Salah satu yang menarik dari sejarah negara ini adalah bahwa Thailand tidak pernah dijajah oleh Bangsa Eropa. Oleh karenanya, bentuk sistem pemerintahannya pun monarki konstitusional dimana pemerintahan dipegang oleh Perdana Menteri sedangkan Raja hanya sebagai simbol.

Salah satu dampak tidak pernah adanya penjajahan bangsa barat ke negara ini menjadikan sebuah cerita menarik lainnya. Salah satunya adalah penduduk Thailand tidak fasih berbahasa asing, mayoritas dari mereka hanya dapat berkomunikasi dengan Bahasa Thailand. Itulah PR para turis asing jika berkunjung ke Thailand. Sudah banyak cerita teman yang menjadi ‘korban’ akibat sulit untuk berkomunikasi dengan penduduk lokal, lost in translation.

Bagi yang pernah berkunjung ke Bangkok pasti paham dengan pengalaman di atas. Namun, kali ini saya akan berbagi sedikit cerita tentang Thailand yang sangat berbeda.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke rumah saudara di Thailand Selatan. Pengalaman tersebut mengubah persepsi saya tentang Thailand. Kota yang saya datangi adalah Pattani. Untuk sampai di Pattani saya melalui perjalanan darat dari Kota Bharu, Kelantan, Malaysia dengan melewati Narathiwat (atau Nara) yang sudah masuk wilayah Thailand. Perjalanan darat dengan kendaraan pribadi kurang lebih memakan waktu 2-3 jam melalui dareah pedesaan dan perbukitan.

Su-Ngai Golok Boundary Post

Su-Ngai Golok Boundary Post

Perjalanan tersebut saya lalui (sayangnya) dengan kebanyakan tidur (disclaimer: blood B type person). Saya bangun ketika sudah masuk wilayah Nara lepas dari Su-Ngai Golok Boundary Post di perbatasan Malaysia-Thailand. Jalanan kotanya kecil, teratur, dan bersih, di kiri kanan jalan banyak toko lokal. Daerah yang tidak terkena arus modernitas, tidak ada macet seperti Bangkok.  Namun ada yang jelas berbeda ketika saya menyadari, bahwa salah satu pengendara motornya adalah seorang perempuan berhijab bahkan menggunakan niqab atau cadar. Tak beberapa lama saya pun terbiasa dengan pemandangan tersebut. Semua wanita dewasa muslim yang saya temui berhijab. Sepanjang jalan menuju rumah beberapa kali saya melewati masjid raya. Jika tidak melihat bendera Thailand berkibar di area sekitar masjid tidak ada kesan Thailand sama sekali. Ya memang, Thailand yang bukan Thailand yang selama ini pernah saya temui. Dulu ketika di Bangkok rasanya  lebih mudah menemukan pagoda atau kuil dibandingkan melihat masjid. Ada pun satu masjid yang pernah dimasuki saat di Bangkok letaknya harus masuk jalan kecil, dekat dengan pemukiman.

one fine day in Nara

one fine day in Nara

Wilayah Thailand Selatan terdiri dari empat provinsi yang berdekatan yakni Pattani, Nara, Yala, dan Songhkla. Mayoritas penduduknya adalah muslim. Karena berbatasan dengan Malaysia, mereka fasih berbahasa Melayu. Selain itu, memang Bahasa Melayu masuk kurikulum sekolah disini. Tapi, menurut saya Bahasa Melayunya juga terdengar berbeda di telinga saya dibandingkan Bahasa Melayu Malaysia, walaupun masih ada beberapa persamaan istilah bahkan dengan Melayu Sumatera.

Masjid Raya di Provinsi Yala

Masjid Raya di Provinsi Yala

Menyadari bahwa mayoritas warganya muslim taat memberi kesan yang berbeda tentang Thailand. Perempuan hanya boleh bersalaman denga perempuan, laki-laki dengan laki-laki kecuali memang dengan mahramnya, selain itu para wanita dewasa mengenakan gamis dengan jilbab yang menjulur panjang. Masjid ramai di jam sholat dan mendengar adzan bukanlah hal langka disini. Melihat wanita bercadar pun terbilang sering. Yang saya heran, sepupu dan bude saya masih bisa mengenali (jika merupakan seorang kenalan) perempuan bercadar dengan mudahnya. Saya belum pernah menemui pengalaman seperti ini sebelumnya ketika jauh dari rumah. Hal-hal ini terjadi di salah satu Negara Asia Tenggara, yang membuat kesan yang sangat bukan Thailand.

Dengan kondisi tersebut, saya tidak mengalami kekhawatiran ketika akan jajan atau makan disini. Karena memang mudah sekali untuk menemukan makanan halal. Karena berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, semakin jauh dari Tanah Air semakin tidak mudah mendapatkan makanan halal. Kebetulan karena saya bepergian dengan keluarga yang asli orang Thailand jadinya sudah pasti masuk tempat makan halal.

Makan tengah. Young tofu kuah merah dengan wansui (kiri bawah). Nasi kerabu (kanan bawah)

Makan tengah.
Young tofu kuah merah dengan wansui (kiri bawah).
Nasi kerabu (kanan bawah)

Hal menyenangkan ketika berbaur dengan penduduk lokal adalah berperilaku seperti halnya penduduk lokal. Misalnya, ketika sedang makan bersama di rumah lauk ataupun sayur diletakkan di tengah. Lauk dan sayur diambil sedikit demi sedikit, mengambil lagi jika lauk di piring kita sudah habis. Persis seperti ketika kita melihat di acara TV orang Tiongkok atau Jepang yang hanya memegang mangkok nasi sedangkan lauk diambil setiap suapan menggunakan sumpit. Bedanya di Pattani makan langsung pakai tangan atau sendok. Namun, jika sedang makan di luar atau membeli nasi kerabu (semacam menu sarapan seperti nasi uduk) yang dibungkus, setiap orang harus bertanggung jawab untuk menghabiskan porsinya masing-masing. Karena berbatasan dengan Malaysia, beberapa jenis masakannya pun masih terpengaruh  cita rasa melayu. Namun tentu saja dengan penyesuaian rempah yang lebih banyak dan selau ada daun ketumbar atau wansui yang memberi aroma langu di setiap menu berkuah. Menu sea food tidak pernah ketinggalan saat makan siang atau pun malam selama saya di Pattani.

Kesan kehidupan yang aman dan nyaman bahkan untuk dapat melaksanakan ibadah sempat mengalami perjuangan yang panjang. Wilayah Thailand Selatan melalui konflik bertahun-tahun dan telah memakan banyak korban jiwa (bisa gugling untuk info lebih banyak). Jika mengingat masa kecil saya yang sering kirim kartu lebaran ke rumah bude di Pattani sempat terhenti beberapa tahun karena dampak konflik tersebut. Pada saat itu,  keluarga di Indonesia dilarang untuk melakukan komunikasi. Namun, kali ini keadaan sudah jauh lebih baik walaupun masih banyak tentara bersenjata lengkap yang berjaga di wilayah perbatasan. Sudah membaik walaupun belum sampai 24 jam saya mendarat di Pattani sudah mendapat berita terjadi bombing di pusat kota Pattani.

Masjid Sultan Muzaffar Syah. Masjid ini pernah dibakar pada saat umat muslim Pattani menjalankan sholat Subuh. Masjid ini masih berfungsi dan tetap digunakan tanpa ada renovasi sebagai pengingat tragedi yang pernah terjadi.

Masjid Sultan Muzaffar Syah. Masjid ini pernah dibakar pada saat umat muslim Pattani menjalankan sholat Subuh. Masjid ini masih berfungsi dan tetap digunakan tanpa ada renovasi sebagai pengingat tragedi yang pernah terjadi.

Thailand Selatan memberikan kesan yang sangat berbeda dengan Bangkok yang selalu identik dengan hiruk pikuk ibukota yang selalu ramai dan macet. Mungkin jika saya tidak berkesempatan untuk berkunjung ke Pattani saya tidak akan pernah tahu bahwa ada wajah Thailand yang seperti itu. Wilayah yang sangat tenang, tidak riuh, penduduknya sangat religius, ramah, dan bersahaja. Hampir seperti berkunjung ke pelosok desa dimana masih mudah menemui sawah dan kebon dan sungai dan perbukitan dan pantai. Rasanya seperti datang ke rumah saudara jauh yang sudah lama tidak bertemu. Layaknya saudara, beberapa tetangga datang ke rumah di hari terakhir saya disana. Mereka menyampaikan salam perpisahan, membawa buah tangan, serta titip salam untuk keluarga di Indonesia, untuk keluarga yang mereka anggap saudara, saudara yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya.

sekitar bendungan Pattani

sekitar bendungan Pattani

“one’s destination is never a place, but new way of seeing things” – Henry Miller.

 @medhaeka

Kemana saja?

Halo Halo semuaa…

buat yang kangen saya dan bertanya tanya kemana gerangan saya menghilang selama dua tahun ini, akan saya jawab di postingan ini.

sedikit clue :

image

Yup, saya memutuskan untuk memulai karir selepas kuliah sebagai aristek di negeri tetangga

Di sini, saya berlari melanjutkan hidup dan bermimpi.

Sedikit alasan dari saya vacum dari blog ini selama dua tahun, jam kerja yang dimulai jam 9 dan diakhiri dengan tidak menentu (rata-rata jam 9 malam sampai jam 4 pagi) benar benar menguras waktu. Posisi sebagai junior dan lingkungan kerja yang super kompetitif menjadikan saya lupa waktu (lebih sering lupa mandi sih).

Setelah dua tahun berlalu, barulah junior berdatangan hehehe.. sampai akhirnya saya berkesempatan berpetualang ke beberapa tempat lain (selebihnya di postingan lainnya)

namun,

posisi saya yang jauh ini tidak menjadikan saya lupa akan Japan sembarangan, sahabat saya. Irma di Balikpapan, Medha di Cirendeu, dan Amil yang masih asik menikmati Jogja. semoga yang terbaik selalu menyertai kalian.

cheers, semoga kita bisa berjumpa dalam waktu dekat.

IMG_8481

Hi There (again)

Hi There (again),

Tak terasa sudah lama sejak postingan terakhir dimuat di Jajajansembarangan,

rasanya baru kemarin kita memutuskan untuk memulai blog ini

rasanya juga baru saja kemarin kita masih merencanakan petualangan seputar Jogja, berdiskusi di cafe malam-malam yang dipilih dengan acak, saling mengunjungi satu sama lain hanya sekedar untuk menyapa, bernyayi lantang di kabin kuda sembari berkendara tak tentu arah atau sekedar menikmati matahari terbenam di pinggir pantai.
IMG_5473

Kalau dihitung lagi ternyata Blog ini sudah berusia 4 tahun lebih, namun postingan seakan terhenti di tahun 2011 karena kesibukan masing masing. (aaakk kelewatan posting ulang tahun 2012 dan 2013…..huhuhu)

Hmm.. kesibukan memang menjadi ganjalan besar dalam menulis (setidaknya buat saya) hehehe..

Ok.. daripada semakin sibuk menatap masa lalu..ayo menulis lagii!!.

MedhaREZAIrmaAmil

Menjadi Pedestrian

Menilik kembali blog ini setelah sekian lamanya. Pun tanpa update terbaru membuat saya gatel untuk bercerita disini. Apa kabar Im, Me, Cum? Apakah dunia masih tetap ramah dan hangat saat jarak, ruang, dan waktu memisahkan ? Eits, saya ga mau terlalu mellow hellow mengawali cerita baru disini. Tapi mendadak saya kangen dengan kehadiran mereka. Sungguh. Tiap dari mereka seakan melengkapi saya.

*celingak-celinguk cari tissue*

Baiklah, saya hanya akan membagi cerita ringan saja disini, cerita sedikit tentang ibukota. Kurang lebih 3 bulan saya mencoba berdamai dengan kota yang bahkan tidak pernah ada dalam list daftar tempat untuk saya tinggali. Namun, saya tidak akan panjang lebar bercerita kenapa pada akhirnya petualangan saya harus berlanjut di kota yang menyeramkan ini.

Sangat menyeramkanketika mendengar kabar tentang kabar kriminalitasnya, tentang kehidupan yang serba keras, tentang banjir, tentang macet, tentang kekacauan pusat pemerintahan, tentang polusi yang mengancam nyawa, tentang issue tenggelamnya. Tapi, entah mengapa sejauh ini dengan berbagai kekacauan yang terjadi itu, saya masih merasa bahwa kota yang kabarnya lebih kejam terhadap ibu tiri ini masih ramah.

Jujur, macet yang menjadi makanan sehari-hari disini sepertinya sudah menjadi pemakluman bagi siapa saja. Bahkan bagi saya yang notabene pendatang. Terlalu banyak orang sementara sarana dan prasarana transportasi tidak memadai mobilitas tinggi para penduduk yang jumlahnya jutaan. Selama di Jogja, saya selalu mengandalkan motor untuk aktivitas harian. Namun di kota ini, saya harus berpikir berkali-kali untuk mengendarai motor ini. Hingga pada akhirnya transportasi umum menjadi andalan saya. Sebut saja TransJakarta, mikrolet, kopaja, patas, metro mini, taksi, bahkan bajaj sangat bisa diandalkan dalam keseharian.

Memang kehadiran transportasi umum tidak seketika mengatasi masalah kemacetan maupun masalah turunan dari macet itu sendiri. Tapi setidaknya dengan banyaknya manusia yang memanfaatkan kendaraan umum akan mengurangi kepadatan mobil  pribadi di jalan raya ibu kota. Akan menjadi tidak terbayangkan ketika bejibun orang yang berjubel dalam angkot setiap harinya lebih memilih kendaraan pribadi. Jika itu terjadi mungkin arus lalu lintas jalanan menjadi tidak bergerak karena macet akanterjadi hanya dalam hitungan tahunan saja. Seraaaam.

Ketika seseorang mengandalkan kendaraan umum maka mau tidak akan menjadi pedestrian sekaligus. Berjalan dulu demi menuju halte busway atau menuju jalan rute angkutan umum yang akan membawa ke tempat tujuan. Lagi-lagi sarana prasana untuk pedestrian pun tidak memadai. Trotoar beralih fungsi menjadi tempat jualan kaki lima, trotoar di atas gorong-gorong saluran air yang berlubang, trotoar berlubang yang ketika hujan menjadi kubangan air yang becek. Tidak mengherankan ketika berjalan di kota ini, sakit dan lecet kaki menjadi efek samping yang tidak dapat dielakkan. Belum lagi ditambah panas dan polusi yang berkepanjangan akibat sedikitnya lahan hijau di kanan kiri jalan yang harus rela ditebas demi fly over yang bahkan tidak memecahkan masalah kemacetan.

Memang kalau diperhatikan pedestrian adalah pihak yang kurang diuntungkan pada kondisi ini. Berebutan area pejalan dengan para pengendara kendaraan. Ketika area pejalan kaki terenggut mau tidak mau pejalan terpaksa mlipir di tepian jalanan aspal dengan resiko diklakson para pengendara motor yang tidak sabaran karena merasa perjalanannya terhambat. Kadang kalau sedang kesal saya pura-pura tidak dengar ada suara motor dan jalan santai di atas trotoar ketika dari arah belakang saya ada motor yang lewat di trotoar untuk menembus kemacetan. Terkadang menyeberang jalan pun menjadi hal yang sangat sulit dilakukan disini. Serba salah ya jadi pedestrian.

Tanpa mau mencari apa atau siapa yang salah dari carut marut transortasi di kota ini, saya mau berbagi enaknya menjadi pedestrian.  Dengan menjadi pejalan kaki kita akan menjadi pengamat yang baik. Ketika berkendara dengan motor atau mobil kita pasti terpacu untuk berkendara dengan kecepatan tinggi dan ingin sampai tujuan dengan segera kan? Bayangkan betapa banyak hal yang kadang terlewat ketika kita fokus ke kendali kendaaran kita. Dan ketika kita menurunkan kecepatan dengan berjalan kaki, maka kita akan menjadi lebih ‘ngeh’ dengan apa-apa saja yang ada di sekitar kita. Misal, sadar kalau ada banyak warung makan Aceh di dekat kos atau ternyata ada dua abang penjual siomay yang jualan di jalan pulang kerja menuju kos.

pejalan kaki masih belum mendapat hak istimewa di negeri ini

Sedikit tips ketika menjadi pedestrian adalah:

  1. Kenakanlah pakaian yang nyaman untu berjalan kaki.

Dengan berjalan maka sedikit banyak kita akan berkeringat, pakailah baju yang nyaman dan sekiranya dapat menyerap keringat.

2. Pakailah sandal atau platform shoes

Memakai sandal jepit atau flat shoes yang nyaman akan sangat mendukung perjalanan kita. pakailah alas kaki yang dapat memberikan kenyamanan saat berjalan serta tidak membuat kaki lecet-lecet. Pengalaman saya, sandal biasa pun menjadi tidak nyaman saat kaki kita terasa panas menopang tubuh, alhasil alas kaki saya pun menjadi panas, maka pilihlah alas kaki dengan bahan yang ramah dengan kaki kita. eh tapi, kadang saya heran juga sama mbak-mbak yang pakai heels atau wedges untuk jalan-jalan. Bahkan sering takjub ketika mereka berlarian mengejar angkot

3. Menggunakan tas punggung

Menurut saya ini pilihan ideal seorang pejalan kaki. Berdasarkan pengalaman mengenakan shoulder bag yang tidak rata membagi beban hingga pada akhirnya malah pegel sebelah karena keberatan beban di sebelah bahu saja. Tapi pilihan kembali ke kesukaan masing-masing orang

4. Membawa payung lipat

Ini adalah peripheral wajib punya seorang pedestrian. tidak membawa satu barang ini maka berantakanlah seluruh timeline . Tidak terbayangkan harus terjebak hujan, menuggu hingga reda untuk melanjutkan kembali perjalanan kita.  bahkan sebenarnya payung pun bisa berguna saat panas. Multifungsi kan? pastikan benda ini ada di tas ketika bepergian

5. Membawa tumbler

Berkeringat setelah berjalan jauh membuat kita kehilangan sedikit cairan. Hingga akhirnya membuat haus. Maka bawalah tumbler atau tempat minum sebagai pertolongan pertama saat haus. Menurut saya, bagi seorang pedestrian wajib hukumnya untuk punya dan membawa tumbler berisi air minum.

6. Membawa beauty case

Biar kemana pun dan dimana pun penampilan itu memang bukan yang utama, tapi tetaplah yang pertama. Usahakn untuk selalu tampil oke walaupun kita telah menempuh berjalan jauh. Berkeringat bukan alasan kita untuk datang dalam keadaan kucel setelah berjalan kaki. Sempatkanlah ke kamar mandi untuk merapikan diri maupun sedikit berdandan kembali agar tampil prima setelah sampai di tujuan

7. Pakailah masker

Polusi debu kendaraan bermotor sangat tinggi di kota ini, bahkan hingga mengganggu kesehatan pernafasan. Pakailah masker saat berjalan kaki atau naik angkutan umum di ibu kota. Walaupun saya tidak dapat menjamin 100% efektivitasnya mengamankan pernafasan kita dari partikel debu berukuran mikro tersebut, paling tidak kita tidak menghirup bau-bauan asap secara langsung yang dapat membahayakan kesehatan. manfaat lainnya adalah untuk mencegah udara kotor bersentuhan dengan kulit kita yang dapat berakibat muka kotor, timbul jerawat hingga kulit muka tidak sehat.

8. Rutin makan buah

Untuk mereka yang memiliki kesibukan kerja tinggi, bisa dibilang waktu untuk berolah raga sangat sempit. Mungkin, sakah satu olah raga yang dapat dilakukan adalah dengan berjalan kaki tadi. Maka, untuk menyeimbangkan kesehatan tubuh dari asupan dalam tubuh, rajin-rajinlah makan buah-buahan, khususnya yang mengandung antioksidan tinggi. Antioksidan tinggi dapat diperoleh dari jeruk, buah naga, kiwi, atau pun buah pome. Antioksidan akan melawan radikal bebas yang berasal dari polusi yang kita temui setiap hari, atau bahkan dalam makanan yang kita makan. Radikal bebas dapat berpotensi menjadi sel kanker yang membahayakan tubuh. Maka rajin-rajinlah konsumsi buah.

 

Semoga tips ini berguna ya.  😉

Menulis tentang transportasi mendadak saya jadi ingat sebuah quote, kurang lebih begini  “untuk mengetahui kemampuan pemerintah mengatur Negara maka lihatlah kemampuannya mengatur transportasinya”.

Sedikit tambahan, berdasarkan pengamatan saya ‘untuk melihat watak ataupun kepribadian seseorang sebenarnya lihat dan kenalilah saat mereka menjadi pengguna jalan, menajdi pengendara ataupun sekedar pejalan kaki ’.

 

RezaMEDHAIrmaAmil

 

 

 

sepertinya baru kemarin

sepertinya baru kemarin, kita duduk bersila di bawah atap KPTU berbagi ‘off the record KKN story’ .

sepertinya baru kemarin, kita tergelak, melepas tawa di area publik tanpa peduli tatapan heran orang-orang di sekitar.

sepertinya baru kemarin, kita deg-degan berjamaah hanya karena setumpuk 52 kartu remi yang kita permainkan hingga larut tengah malam.

sepertinya baru kemarin, kita tidak gentar pada jauhnya rute perjalanan demi sebuah pengalaman 1094 mdpl.

sepertinya baru kemarin, kemampuan bersyukur kita dipompa melalui matahari terbenam ke matahari terbenam selanjutnya di tepian selatan Jogja.

sepertinya baru kemarin, kaki-kaki kita dijilati ombak Samudera Hindia.

Dan kali ini- tanpa pernah terbayangkan sebelumnya- berkubik-kubik air asin membatasi ruang dan waktu kita.

selamat bertualang, selamat berkarya, pals.

see you when I see you.

 

Solo, Agustus 2011

Happy 2nd Anniversary

hari ini dua tahun yang lalu adalah ‘batu loncatan’ kita.

 

Happy 2nd Anniversary, JJS :-*

Music democratic..

image

image

Hohoho semalam saya menyesatkan diri di sisi lain kehidupan yang saya jarang sambangi. Ya kehidupan para seniman Jogja yang sebenarnya dekat dengan keseharian kita. Adalah sebuah konser musik berjudul “Speak Up” yang digelar di Jogja National Gallery. Sebuah pergelaran yang bertajuk menyuarakan pendapat diri mungkin.

Konser tersebut bisa dibilang sangat sederhana dengan 8 orang musisi dan seorang conductor. Namun kolaborasinya sangat menarik. Masing2 membawakan alat musik yang berbeda. Drum, keyboard, gitar,bass, saxophone, synthesizer, laptop, vokal, gendang dan bambu berdawai (ini alat musik aneh yang saya blm pernah lihat). Masing2 membawa nuansa dan suara berbeda dalam pertunjukan ini. Suara tradisional etnik dari gendang dan bambu berdawai. Suara lembut dan halus dari keyboard bertone piano. Suara renyah saxophone, bas dan gitar. Hentakan drum sampai suara elektronik dari sebuah synthesizer dan laptop. Ditambah pula kemampuan vokal yang mumpuni untuk menghasilkan suara yang bermacam2.

Lebih unik lagi, lagu yang dimainkan adalah lagu yang bersifat spontan dan kolaboratif. Masing-masing musisi membawa alat musiknya ke tingkatan yang lebih lanjut. Misalnyua stik drum yang digesekkan ke cymbal, piano yang dipukul tidak beraturan sampai bambu bersenar yang digesek petik hahaha sungguh aneh. Sepintas seperti anak-anak yang serampangan memainkan alat musik. Tapi kolaborasi eksperimental ini yang membuatnya menantang untuk dinikmati.

Nilai tambah yang saya tekankan disini adalah fungsi masing-masing individu dalam pertunjukan ini. Conductor memberikan arahan tanpa partitur awal yang jelas. Arahan hanya diberikan dengan mengangkat bermacam-macam kertas berwarna ke arah musisi. Macam-macam warna itu memberikan petunjuk tentang suasana seperti apa yang harus diciptakan dan siapa yang mengambil “lead” permainan, sisanya terserah pada musisinya.

Penekanan berlanjut pada masing-masing musisi yang kemudian dapat mengangkat tangan (di tengah pertunjukan tentu saja) untuk menyumbang komposisi, mengisi kekosongan melodi, menjadi pengiring sampai menjadi “leader” permainan. Alhasil terbentuk sebuah pertunjukan yang dinamis dan menarik serta penuh dengan kejutan pada tiap bagiannya. Sebuah pertunjukan yang kompak, solid, namun tetap berkarakter.

Mungkin dapat kita telaah lebih lanjut.

Dalam kehidupan, kita seperti berada dalam sebuah pertunjukan. Hidup kita dan kita sebagai conductornya. Conductor merencanakan komposisi menjadi partitur lengkap dibagikan kepada musisi yang berperan sebagai pemain alat musik sesuai perencanaan conductor (dalam hal ini kita- saya atau anda). HOIIII tapi diingat…kita bukan Tuhan yang bisa merencanakan segalanya dan berlaku seakan orang lain mengerti dan mau melakukan hal yang kita inginkan.

Pertunjukan diatas menggambarkan dengan lugas posisi seorang conductor atau posisi diri kita di kehidupan nyata di tengah sahabat dan manusia lainnya. Kita perlu mendengar, kita perlu memikirkan ide orang lain, kita perlu memikirkan perasaan orang lain, dan mungkin kita memerlukan bantuan orang lain agar pertunjukan hidup kita dapat sukses. Dan kita bisa melakukannya dengan menghormati orang lain (dilakukan bukan diucapkan). Menghargai kedudukannya sebagai individu yang juga melandasi bagaimana kita bersikap dan mengambil keputusan.

Digambarkan dengan lugas dalam peran conductor di pertunjukan ini.

Sahabat, anda tidak hidup sendiri di dunia ini. Ada sahabat lain yang siap membantu anda. Namun perlakukanlah sahabat anda itu juga layaknya individu yang TERHORMAT.

MedhaREZAIrmaAmil