

Hohoho semalam saya menyesatkan diri di sisi lain kehidupan yang saya jarang sambangi. Ya kehidupan para seniman Jogja yang sebenarnya dekat dengan keseharian kita. Adalah sebuah konser musik berjudul “Speak Up” yang digelar di Jogja National Gallery. Sebuah pergelaran yang bertajuk menyuarakan pendapat diri mungkin.
Konser tersebut bisa dibilang sangat sederhana dengan 8 orang musisi dan seorang conductor. Namun kolaborasinya sangat menarik. Masing2 membawakan alat musik yang berbeda. Drum, keyboard, gitar,bass, saxophone, synthesizer, laptop, vokal, gendang dan bambu berdawai (ini alat musik aneh yang saya blm pernah lihat). Masing2 membawa nuansa dan suara berbeda dalam pertunjukan ini. Suara tradisional etnik dari gendang dan bambu berdawai. Suara lembut dan halus dari keyboard bertone piano. Suara renyah saxophone, bas dan gitar. Hentakan drum sampai suara elektronik dari sebuah synthesizer dan laptop. Ditambah pula kemampuan vokal yang mumpuni untuk menghasilkan suara yang bermacam2.
Lebih unik lagi, lagu yang dimainkan adalah lagu yang bersifat spontan dan kolaboratif. Masing-masing musisi membawa alat musiknya ke tingkatan yang lebih lanjut. Misalnyua stik drum yang digesekkan ke cymbal, piano yang dipukul tidak beraturan sampai bambu bersenar yang digesek petik hahaha sungguh aneh. Sepintas seperti anak-anak yang serampangan memainkan alat musik. Tapi kolaborasi eksperimental ini yang membuatnya menantang untuk dinikmati.
Nilai tambah yang saya tekankan disini adalah fungsi masing-masing individu dalam pertunjukan ini. Conductor memberikan arahan tanpa partitur awal yang jelas. Arahan hanya diberikan dengan mengangkat bermacam-macam kertas berwarna ke arah musisi. Macam-macam warna itu memberikan petunjuk tentang suasana seperti apa yang harus diciptakan dan siapa yang mengambil “lead” permainan, sisanya terserah pada musisinya.
Penekanan berlanjut pada masing-masing musisi yang kemudian dapat mengangkat tangan (di tengah pertunjukan tentu saja) untuk menyumbang komposisi, mengisi kekosongan melodi, menjadi pengiring sampai menjadi “leader” permainan. Alhasil terbentuk sebuah pertunjukan yang dinamis dan menarik serta penuh dengan kejutan pada tiap bagiannya. Sebuah pertunjukan yang kompak, solid, namun tetap berkarakter.
Mungkin dapat kita telaah lebih lanjut.
Dalam kehidupan, kita seperti berada dalam sebuah pertunjukan. Hidup kita dan kita sebagai conductornya. Conductor merencanakan komposisi menjadi partitur lengkap dibagikan kepada musisi yang berperan sebagai pemain alat musik sesuai perencanaan conductor (dalam hal ini kita- saya atau anda). HOIIII tapi diingat…kita bukan Tuhan yang bisa merencanakan segalanya dan berlaku seakan orang lain mengerti dan mau melakukan hal yang kita inginkan.
Pertunjukan diatas menggambarkan dengan lugas posisi seorang conductor atau posisi diri kita di kehidupan nyata di tengah sahabat dan manusia lainnya. Kita perlu mendengar, kita perlu memikirkan ide orang lain, kita perlu memikirkan perasaan orang lain, dan mungkin kita memerlukan bantuan orang lain agar pertunjukan hidup kita dapat sukses. Dan kita bisa melakukannya dengan menghormati orang lain (dilakukan bukan diucapkan). Menghargai kedudukannya sebagai individu yang juga melandasi bagaimana kita bersikap dan mengambil keputusan.
Digambarkan dengan lugas dalam peran conductor di pertunjukan ini.
Sahabat, anda tidak hidup sendiri di dunia ini. Ada sahabat lain yang siap membantu anda. Namun perlakukanlah sahabat anda itu juga layaknya individu yang TERHORMAT.
MedhaREZAIrmaAmil
Comments on: "Music democratic.." (1)
jogja national museum kalii,,bukan jogja national gallery.
:p