Sebenernya yang nularin Ngayogjazz ke JJS adalah Irbul. Walaupun udah digelar 4 kali, tapi JJS baru perdana datang pas acara Ngayogjazz 2009 di Gabusan. Dan di awal tahun ini gelaran jazz kelas festival itu digelar kembali pada 15 Januari 2011 di pelataran seniman Ki Djoko Pekik daerah Sembungan, Madukismo, Kasihan, Bantul. Acara Ngayogjazz ini masih mengusung konsep yang sama dengan tahun sebelumnya, terdapat tiga panggung yakni panggung Siter, Slompret, dan Tambur untuk para penampil di ruang terbuka. Tema Ngayogjazz tahun ini adalah “makan ora mangan ngejazz” yang membawa pesan solidaritas antara warga Jogja di tengah musibah erupsi Merapi lalu.
Sekedar info, Ngayogjazz 2011 seharusny digelar di penghujung tahun 2010, tapi karena erupsi Merapi acara ini baru diselengarakan di awal tahun 2011.
Saya dan Irbul menembus hujan menuju Kasihan, Bantul demi acara setahun sekali itu.Cukup heran juga sesampai di tempat acara yang ternyata berada di tengah perkampungan tersebut. Parkir yang jauh dari tempat acara berlangsung, jalanan yang gelap, hujan, dan becek semakin membuat tidak nyaman.
(sekedar info, Boim yang menyusul dengan naik silver harus muter-muter dan nyasar untuk menemukan kembali tempat parkir mobilnya
)
Saya dan Irbul hanya bisa membayangkan betapa bagusnya dekorasi lampu minyak yang digunakan sebagai penerangan menuju jalan masuk maupun yang digantung di pohon jika hari itu tidak hujan. Mungkin seharusnya, nyala lampu kuning di antara rimbun kegelapan pepohonan akan memberi kesan hangat di malam itu. Tapi apa daya, pawang hujan sepertinya kurang ampuh malam itu :-p
Sambil menunggu hujan, saya dan Irbul jajan dan ngeyup sambil pusing melihat banyaknya orang dan mbak-mbak yg dandan habis buat datang ke acara tersebut. Dandanan cantik mereka juga turut dirusak oleh hujan malam itu. Saya dan Irbul pun merasa beruntung tidak salah kostum dengan jeans, sandal jepit, dan sandal gunung yang bersahabat dengan becek di lembah sungai itu. :-p
Tidak seperti Ngayogjazz tahun 2009, di Ngayogjazz 2011 beberapa panggung menampilkan aksi secara bersamaan. Akhirnya jadi bingung mau nonton yang mana. Secara naluriah saya dan Irbul malah memilih untuk menuju stage yang sepi penonton yakni panggung Slompret. Kami berdua menuju panggung tersebut karena akan digunakan sebagai acara puncak, yakni dimana Glen Fredly bakalan manggung di ujung acara.
Sambil menunggu mas Glen muncul, kami menikmati merdunya suara Iga Mawarni, Tohpati yang tampil dalam kemasan “Bertiga” dan beberapa seniman Jogja lainnya. Yah, walau begitu kami harus rela kelewatan aksi Syaharani yang tampil di panggung Tambur (padahal tahun sebelumnya penampilan Syaharani juga hanya sebentar karena mati listrik).
Beberapa pengisi acara Ngayogjazz sempat menyatakan kekagumannya kepada Djaduk Ferianto selaku direktur Ngayogjazz yang menyelenggarakan gelaran jazz kelas festival di ruang terbuka alih-alih di ruang pertunjukkan bahkan gratisan. Ngayogjazz menjadi salah satu bentuk nyata untuk menunjukkan pada khalayak bahwa jazz adalah permainan musik yang ekspresif, spontan dan tanpa batas. “Jazz adalah lintas fleksibiltas, Jazz adalah lintas improvisasi”, kata salah seorang seniman saat akan tampil. Musik yang berasal dari kalangan ‘rakyat’. Gelaran acara Ngayogjazz pun sangat merakyat, pembawa acara yang berasal dari kalangan seniman Jogja sangat menghibur penonton di sela pergantian para penampil, gojeg kere yang selalu bisa membuat tawa menghangatkan suasana malam itu.
Taktik kami untuk memilih stage yang sepi menjadi berbuah manis. Saat Tohpati tampil kami berhasil merangsek maju. Hingga akhirnya saat Glen and band naik ke panggung kami berada di depan dan menpdapatkan tempat pewe buat menikmati aksi mereka. Yeay!!!
RezaMEDHAIrmaAmil
Note: Yang spesial dari Ngayogjazz kali ini adalah bertepatan dengan umur baru saya (blush), selain itu merasakan kembali euphoria nonton konser dan nyanyi-nyanyi bareng banyak orang yang ga kenal. Dan yang paling spesial adalah melewatkan hari menyenangkan itu hingga berganti hari bersama sahabat terbaik. :-*
(Dan hari itu adalah hari terakhir hore-hore bersama Irbul. Siapa mengira di Sabtu minggu depannya kami terpisah lautan dan berada dalam zona waktu berbeda)
Photos by Afif Huwaida atau bisa kunjungi juga blognya disini.



Comments on: "Ngayogjazzing 2011: menembus hujan untuk Glen" (2)
gugun blues shelter kok ga disebut,hehehe,,mari kita lanjutlkan gema nyawa jazz setiap senen di bentara budaya,,ramai2 meriahkan alunan jazz,,mari2,,
aku pernah ke Jazz Mben Senen tapi pas kesana belum mulai. malam bgt mulainya pit.hehe..
eh,tapi kalau kamu mau kesana aku mau juga lo pit diajakin.hehe..
aku kesana udah malem pit jadi ga liat mas gugun itu.