sahabat yang berkelana untuk berbagi dan menginspirasi

Menjadi Pedestrian

Menilik kembali blog ini setelah sekian lamanya. Pun tanpa update terbaru membuat saya gatel untuk bercerita disini. Apa kabar Im, Me, Cum? Apakah dunia masih tetap ramah dan hangat saat jarak, ruang, dan waktu memisahkan ? Eits, saya ga mau terlalu mellow hellow mengawali cerita baru disini. Tapi mendadak saya kangen dengan kehadiran mereka. Sungguh. Tiap dari mereka seakan melengkapi saya.

*celingak-celinguk cari tissue*

Baiklah, saya hanya akan membagi cerita ringan saja disini, cerita sedikit tentang ibukota. Kurang lebih 3 bulan saya mencoba berdamai dengan kota yang bahkan tidak pernah ada dalam list daftar tempat untuk saya tinggali. Namun, saya tidak akan panjang lebar bercerita kenapa pada akhirnya petualangan saya harus berlanjut di kota yang menyeramkan ini.

Sangat menyeramkanketika mendengar kabar tentang kabar kriminalitasnya, tentang kehidupan yang serba keras, tentang banjir, tentang macet, tentang kekacauan pusat pemerintahan, tentang polusi yang mengancam nyawa, tentang issue tenggelamnya. Tapi, entah mengapa sejauh ini dengan berbagai kekacauan yang terjadi itu, saya masih merasa bahwa kota yang kabarnya lebih kejam terhadap ibu tiri ini masih ramah.

Jujur, macet yang menjadi makanan sehari-hari disini sepertinya sudah menjadi pemakluman bagi siapa saja. Bahkan bagi saya yang notabene pendatang. Terlalu banyak orang sementara sarana dan prasarana transportasi tidak memadai mobilitas tinggi para penduduk yang jumlahnya jutaan. Selama di Jogja, saya selalu mengandalkan motor untuk aktivitas harian. Namun di kota ini, saya harus berpikir berkali-kali untuk mengendarai motor ini. Hingga pada akhirnya transportasi umum menjadi andalan saya. Sebut saja TransJakarta, mikrolet, kopaja, patas, metro mini, taksi, bahkan bajaj sangat bisa diandalkan dalam keseharian.

Memang kehadiran transportasi umum tidak seketika mengatasi masalah kemacetan maupun masalah turunan dari macet itu sendiri. Tapi setidaknya dengan banyaknya manusia yang memanfaatkan kendaraan umum akan mengurangi kepadatan mobil  pribadi di jalan raya ibu kota. Akan menjadi tidak terbayangkan ketika bejibun orang yang berjubel dalam angkot setiap harinya lebih memilih kendaraan pribadi. Jika itu terjadi mungkin arus lalu lintas jalanan menjadi tidak bergerak karena macet akanterjadi hanya dalam hitungan tahunan saja. Seraaaam.

Ketika seseorang mengandalkan kendaraan umum maka mau tidak akan menjadi pedestrian sekaligus. Berjalan dulu demi menuju halte busway atau menuju jalan rute angkutan umum yang akan membawa ke tempat tujuan. Lagi-lagi sarana prasana untuk pedestrian pun tidak memadai. Trotoar beralih fungsi menjadi tempat jualan kaki lima, trotoar di atas gorong-gorong saluran air yang berlubang, trotoar berlubang yang ketika hujan menjadi kubangan air yang becek. Tidak mengherankan ketika berjalan di kota ini, sakit dan lecet kaki menjadi efek samping yang tidak dapat dielakkan. Belum lagi ditambah panas dan polusi yang berkepanjangan akibat sedikitnya lahan hijau di kanan kiri jalan yang harus rela ditebas demi fly over yang bahkan tidak memecahkan masalah kemacetan.

Memang kalau diperhatikan pedestrian adalah pihak yang kurang diuntungkan pada kondisi ini. Berebutan area pejalan dengan para pengendara kendaraan. Ketika area pejalan kaki terenggut mau tidak mau pejalan terpaksa mlipir di tepian jalanan aspal dengan resiko diklakson para pengendara motor yang tidak sabaran karena merasa perjalanannya terhambat. Kadang kalau sedang kesal saya pura-pura tidak dengar ada suara motor dan jalan santai di atas trotoar ketika dari arah belakang saya ada motor yang lewat di trotoar untuk menembus kemacetan. Terkadang menyeberang jalan pun menjadi hal yang sangat sulit dilakukan disini. Serba salah ya jadi pedestrian.

Tanpa mau mencari apa atau siapa yang salah dari carut marut transortasi di kota ini, saya mau berbagi enaknya menjadi pedestrian.  Dengan menjadi pejalan kaki kita akan menjadi pengamat yang baik. Ketika berkendara dengan motor atau mobil kita pasti terpacu untuk berkendara dengan kecepatan tinggi dan ingin sampai tujuan dengan segera kan? Bayangkan betapa banyak hal yang kadang terlewat ketika kita fokus ke kendali kendaaran kita. Dan ketika kita menurunkan kecepatan dengan berjalan kaki, maka kita akan menjadi lebih ‘ngeh’ dengan apa-apa saja yang ada di sekitar kita. Misal, sadar kalau ada banyak warung makan Aceh di dekat kos atau ternyata ada dua abang penjual siomay yang jualan di jalan pulang kerja menuju kos.

pejalan kaki masih belum mendapat hak istimewa di negeri ini

Sedikit tips ketika menjadi pedestrian adalah:

  1. Kenakanlah pakaian yang nyaman untu berjalan kaki.

Dengan berjalan maka sedikit banyak kita akan berkeringat, pakailah baju yang nyaman dan sekiranya dapat menyerap keringat.

2. Pakailah sandal atau platform shoes

Memakai sandal jepit atau flat shoes yang nyaman akan sangat mendukung perjalanan kita. pakailah alas kaki yang dapat memberikan kenyamanan saat berjalan serta tidak membuat kaki lecet-lecet. Pengalaman saya, sandal biasa pun menjadi tidak nyaman saat kaki kita terasa panas menopang tubuh, alhasil alas kaki saya pun menjadi panas, maka pilihlah alas kaki dengan bahan yang ramah dengan kaki kita. eh tapi, kadang saya heran juga sama mbak-mbak yang pakai heels atau wedges untuk jalan-jalan. Bahkan sering takjub ketika mereka berlarian mengejar angkot

3. Menggunakan tas punggung

Menurut saya ini pilihan ideal seorang pejalan kaki. Berdasarkan pengalaman mengenakan shoulder bag yang tidak rata membagi beban hingga pada akhirnya malah pegel sebelah karena keberatan beban di sebelah bahu saja. Tapi pilihan kembali ke kesukaan masing-masing orang

4. Membawa payung lipat

Ini adalah peripheral wajib punya seorang pedestrian. tidak membawa satu barang ini maka berantakanlah seluruh timeline . Tidak terbayangkan harus terjebak hujan, menuggu hingga reda untuk melanjutkan kembali perjalanan kita.  bahkan sebenarnya payung pun bisa berguna saat panas. Multifungsi kan? pastikan benda ini ada di tas ketika bepergian

5. Membawa tumbler

Berkeringat setelah berjalan jauh membuat kita kehilangan sedikit cairan. Hingga akhirnya membuat haus. Maka bawalah tumbler atau tempat minum sebagai pertolongan pertama saat haus. Menurut saya, bagi seorang pedestrian wajib hukumnya untuk punya dan membawa tumbler berisi air minum.

6. Membawa beauty case

Biar kemana pun dan dimana pun penampilan itu memang bukan yang utama, tapi tetaplah yang pertama. Usahakn untuk selalu tampil oke walaupun kita telah menempuh berjalan jauh. Berkeringat bukan alasan kita untuk datang dalam keadaan kucel setelah berjalan kaki. Sempatkanlah ke kamar mandi untuk merapikan diri maupun sedikit berdandan kembali agar tampil prima setelah sampai di tujuan

7. Pakailah masker

Polusi debu kendaraan bermotor sangat tinggi di kota ini, bahkan hingga mengganggu kesehatan pernafasan. Pakailah masker saat berjalan kaki atau naik angkutan umum di ibu kota. Walaupun saya tidak dapat menjamin 100% efektivitasnya mengamankan pernafasan kita dari partikel debu berukuran mikro tersebut, paling tidak kita tidak menghirup bau-bauan asap secara langsung yang dapat membahayakan kesehatan. manfaat lainnya adalah untuk mencegah udara kotor bersentuhan dengan kulit kita yang dapat berakibat muka kotor, timbul jerawat hingga kulit muka tidak sehat.

8. Rutin makan buah

Untuk mereka yang memiliki kesibukan kerja tinggi, bisa dibilang waktu untuk berolah raga sangat sempit. Mungkin, sakah satu olah raga yang dapat dilakukan adalah dengan berjalan kaki tadi. Maka, untuk menyeimbangkan kesehatan tubuh dari asupan dalam tubuh, rajin-rajinlah makan buah-buahan, khususnya yang mengandung antioksidan tinggi. Antioksidan tinggi dapat diperoleh dari jeruk, buah naga, kiwi, atau pun buah pome. Antioksidan akan melawan radikal bebas yang berasal dari polusi yang kita temui setiap hari, atau bahkan dalam makanan yang kita makan. Radikal bebas dapat berpotensi menjadi sel kanker yang membahayakan tubuh. Maka rajin-rajinlah konsumsi buah.

 

Semoga tips ini berguna ya.  ;)

Menulis tentang transportasi mendadak saya jadi ingat sebuah quote, kurang lebih begini  “untuk mengetahui kemampuan pemerintah mengatur Negara maka lihatlah kemampuannya mengatur transportasinya”.

Sedikit tambahan, berdasarkan pengamatan saya ‘untuk melihat watak ataupun kepribadian seseorang sebenarnya lihat dan kenalilah saat mereka menjadi pengguna jalan, menajdi pengendara ataupun sekedar pejalan kaki ’.

 

RezaMEDHAIrmaAmil

 

 

 

sepertinya baru kemarin

sepertinya baru kemarin, kita duduk bersila di bawah atap KPTU berbagi ‘off the record KKN story’ .

sepertinya baru kemarin, kita tergelak, melepas tawa di area publik tanpa peduli tatapan heran orang-orang di sekitar.

sepertinya baru kemarin, kita deg-degan berjamaah hanya karena setumpuk 52 kartu remi yang kita permainkan hingga larut tengah malam.

sepertinya baru kemarin, kita tidak gentar pada jauhnya rute perjalanan demi sebuah pengalaman 1094 mdpl.

sepertinya baru kemarin, kemampuan bersyukur kita dipompa melalui matahari terbenam ke matahari terbenam selanjutnya di tepian selatan Jogja.

sepertinya baru kemarin, kaki-kaki kita dijilati ombak Samudera Hindia.

Dan kali ini- tanpa pernah terbayangkan sebelumnya- berkubik-kubik air asin membatasi ruang dan waktu kita.

selamat bertualang, selamat berkarya, pals.

see you when I see you.

 

Solo, Agustus 2011

Happy 2nd Anniversary

hari ini dua tahun yang lalu adalah ‘batu loncatan’ kita.

 

Happy 2nd Anniversary, JJS :-*

Music democratic..

image

image

Hohoho semalam saya menyesatkan diri di sisi lain kehidupan yang saya jarang sambangi. Ya kehidupan para seniman Jogja yang sebenarnya dekat dengan keseharian kita. Adalah sebuah konser musik berjudul “Speak Up” yang digelar di Jogja National Gallery. Sebuah pergelaran yang bertajuk menyuarakan pendapat diri mungkin.

Konser tersebut bisa dibilang sangat sederhana dengan 8 orang musisi dan seorang conductor. Namun kolaborasinya sangat menarik. Masing2 membawakan alat musik yang berbeda. Drum, keyboard, gitar,bass, saxophone, synthesizer, laptop, vokal, gendang dan bambu berdawai (ini alat musik aneh yang saya blm pernah lihat). Masing2 membawa nuansa dan suara berbeda dalam pertunjukan ini. Suara tradisional etnik dari gendang dan bambu berdawai. Suara lembut dan halus dari keyboard bertone piano. Suara renyah saxophone, bas dan gitar. Hentakan drum sampai suara elektronik dari sebuah synthesizer dan laptop. Ditambah pula kemampuan vokal yang mumpuni untuk menghasilkan suara yang bermacam2.

Lebih unik lagi, lagu yang dimainkan adalah lagu yang bersifat spontan dan kolaboratif. Masing-masing musisi membawa alat musiknya ke tingkatan yang lebih lanjut. Misalnyua stik drum yang digesekkan ke cymbal, piano yang dipukul tidak beraturan sampai bambu bersenar yang digesek petik hahaha sungguh aneh. Sepintas seperti anak-anak yang serampangan memainkan alat musik. Tapi kolaborasi eksperimental ini yang membuatnya menantang untuk dinikmati.

Nilai tambah yang saya tekankan disini adalah fungsi masing-masing individu dalam pertunjukan ini. Conductor memberikan arahan tanpa partitur awal yang jelas. Arahan hanya diberikan dengan mengangkat bermacam-macam kertas berwarna ke arah musisi. Macam-macam warna itu memberikan petunjuk tentang suasana seperti apa yang harus diciptakan dan siapa yang mengambil “lead” permainan, sisanya terserah pada musisinya.

Penekanan berlanjut pada masing-masing musisi yang kemudian dapat mengangkat tangan (di tengah pertunjukan tentu saja) untuk menyumbang komposisi, mengisi kekosongan melodi, menjadi pengiring sampai menjadi “leader” permainan. Alhasil terbentuk sebuah pertunjukan yang dinamis dan menarik serta penuh dengan kejutan pada tiap bagiannya. Sebuah pertunjukan yang kompak, solid, namun tetap berkarakter.

Mungkin dapat kita telaah lebih lanjut.

Dalam kehidupan, kita seperti berada dalam sebuah pertunjukan. Hidup kita dan kita sebagai conductornya. Conductor merencanakan komposisi menjadi partitur lengkap dibagikan kepada musisi yang berperan sebagai pemain alat musik sesuai perencanaan conductor (dalam hal ini kita- saya atau anda). HOIIII tapi diingat…kita bukan Tuhan yang bisa merencanakan segalanya dan berlaku seakan orang lain mengerti dan mau melakukan hal yang kita inginkan.

Pertunjukan diatas menggambarkan dengan lugas posisi seorang conductor atau posisi diri kita di kehidupan nyata di tengah sahabat dan manusia lainnya. Kita perlu mendengar, kita perlu memikirkan ide orang lain, kita perlu memikirkan perasaan orang lain, dan mungkin kita memerlukan bantuan orang lain agar pertunjukan hidup kita dapat sukses. Dan kita bisa melakukannya dengan menghormati orang lain (dilakukan bukan diucapkan). Menghargai kedudukannya sebagai individu yang juga melandasi bagaimana kita bersikap dan mengambil keputusan.

Digambarkan dengan lugas dalam peran conductor di pertunjukan ini.

Sahabat, anda tidak hidup sendiri di dunia ini. Ada sahabat lain yang siap membantu anda. Namun perlakukanlah sahabat anda itu juga layaknya individu yang TERHORMAT.

MedhaREZAIrmaAmil

Sebenernya yang nularin Ngayogjazz ke JJS adalah Irbul. Walaupun udah digelar 4 kali, tapi JJS baru perdana datang pas acara Ngayogjazz 2009 di Gabusan. Dan di awal tahun ini gelaran jazz kelas festival itu digelar kembali pada 15 Januari 2011  di pelataran seniman Ki Djoko Pekik daerah Sembungan, Madukismo, Kasihan, Bantul. Acara Ngayogjazz ini masih mengusung konsep yang sama dengan tahun sebelumnya, terdapat tiga panggung yakni panggung Siter, Slompret, dan Tambur untuk para penampil di ruang terbuka. Tema Ngayogjazz tahun ini adalah “makan ora mangan ngejazz” yang membawa pesan solidaritas antara warga Jogja di tengah musibah erupsi  Merapi lalu.

Sekedar info, Ngayogjazz 2011 seharusny digelar di penghujung tahun 2010, tapi karena erupsi Merapi acara ini baru diselengarakan di awal tahun 2011.

Saya dan Irbul menembus hujan menuju Kasihan, Bantul demi acara setahun sekali itu.Cukup heran juga sesampai di tempat acara yang ternyata berada di tengah perkampungan tersebut. Parkir yang jauh dari tempat acara berlangsung, jalanan yang gelap, hujan, dan becek semakin membuat tidak nyaman.

(sekedar info, Boim yang menyusul dengan naik silver harus muter-muter dan nyasar untuk menemukan kembali tempat parkir mobilnya :D )

Saya dan Irbul hanya bisa membayangkan betapa bagusnya dekorasi lampu minyak yang digunakan sebagai penerangan menuju jalan masuk maupun yang digantung di pohon jika hari itu tidak hujan. Mungkin seharusnya, nyala lampu kuning di antara rimbun kegelapan pepohonan akan memberi kesan hangat di malam itu. Tapi apa daya, pawang hujan sepertinya kurang ampuh malam itu :-p

Sambil menunggu hujan, saya dan Irbul jajan dan ngeyup sambil pusing melihat banyaknya orang dan  mbak-mbak yg dandan habis buat datang ke acara tersebut. Dandanan cantik mereka juga turut dirusak oleh hujan malam itu. Saya dan Irbul pun merasa beruntung tidak salah kostum dengan jeans, sandal jepit, dan sandal gunung yang bersahabat dengan becek di lembah sungai itu. :-p

Tidak seperti Ngayogjazz tahun 2009, di Ngayogjazz 2011 beberapa panggung menampilkan aksi secara bersamaan. Akhirnya jadi bingung mau nonton  yang mana. Secara naluriah saya dan Irbul malah memilih untuk menuju stage yang sepi penonton yakni panggung Slompret. Kami berdua menuju panggung tersebut karena akan digunakan sebagai acara puncak, yakni dimana Glen Fredly bakalan manggung di ujung acara.

Sambil menunggu mas Glen muncul, kami menikmati merdunya suara Iga Mawarni, Tohpati yang tampil dalam kemasan “Bertiga” dan beberapa seniman Jogja lainnya. Yah, walau begitu kami harus rela kelewatan aksi Syaharani yang tampil di panggung Tambur (padahal tahun sebelumnya penampilan Syaharani juga hanya sebentar karena mati listrik).

inilah yang membuat kami rela berhujan-hujan ria

Beberapa pengisi acara Ngayogjazz sempat menyatakan kekagumannya kepada Djaduk Ferianto selaku direktur Ngayogjazz yang menyelenggarakan gelaran jazz kelas festival di ruang terbuka alih-alih di ruang pertunjukkan bahkan gratisan. Ngayogjazz menjadi salah satu bentuk nyata untuk menunjukkan pada khalayak bahwa jazz adalah permainan musik yang ekspresif, spontan dan tanpa batas. “Jazz adalah lintas fleksibiltas, Jazz adalah lintas improvisasi”, kata salah seorang seniman saat akan tampil. Musik yang berasal dari kalangan ‘rakyat’. Gelaran acara Ngayogjazz pun sangat merakyat, pembawa acara yang berasal dari kalangan seniman Jogja sangat menghibur penonton di sela pergantian para penampil, gojeg kere yang selalu bisa membuat tawa menghangatkan suasana malam itu.

Taktik kami untuk memilih stage yang sepi menjadi berbuah manis. Saat Tohpati tampil kami berhasil merangsek maju. Hingga akhirnya saat Glen and band naik ke panggung kami berada di depan dan menpdapatkan tempat pewe buat menikmati aksi mereka. Yeay!!!

Bassit yang dikagumi Irbul sepanjang acara :D

RezaMEDHAIrmaAmil

Note: Yang spesial dari Ngayogjazz kali ini adalah bertepatan dengan umur baru saya (blush), selain itu merasakan kembali euphoria nonton konser dan nyanyi-nyanyi bareng banyak orang yang ga kenal. Dan yang paling spesial adalah melewatkan hari menyenangkan itu hingga berganti hari bersama sahabat terbaik. :-*

(Dan hari itu adalah hari terakhir hore-hore bersama Irbul. Siapa mengira di Sabtu minggu depannya kami terpisah lautan dan berada dalam zona waktu berbeda)

Photos by Afif Huwaida atau bisa kunjungi juga blognya disini.

The sky has lost its color

The sun has turned to grey

At least thats how it feels to me

Whenever you’re away

I can’t take the distance, I can’t take the miles

I can’t take the time till I next see you smile

I can’t take the distance

And I’m not ashamed that with every breath I take I’m calling your name

I still believe my feelings but sometimes I feel too much

I make believe you’re close to me but it ain’t close enough

not nearly close enough

I’d brave fire and I’d brave rain

To be by your side I’d do anything

I can’t take the distance
I will go the distance, I will go the miles

That’s how much you mean to me

Dear Irma,

we don’t have much time to spend lately

and now the ocean do us apart

again

and even so

we’re still here…

for you…

you’re still part of us

 

we will always love you

even ocean do us apart

:-*

(Lyric: Oliver James – The Distance)

Membolos

Pukul 8 pagi,seorang anak SMP kelas 1 tidak berada di kelasnya. Melainkan berada di serambi masjid Al-Furqaan,Bandar Lampung.
Berdiri di sudut serambi,fundung.
Jendela di dekatnya menampilkan gambaran alam Teluk Lampung dengan Bukit Barisan.

*yang ga tau arti fundung bisa tanya Langsung ke saya.

MEDHARezaIrmaAmil

Saya mengakui kalau judulnya memang terbaca lebay. :-p

Hanya sedang ingin berbagi dengan pengalaman yang baru saja saya alami. Bukan sebuah jurnal perjalanan melainkan berbagi sedikit apa yang saya lihat dalam sebuah kesempatan bepergian dari Jogjakarta menuju Lampung. Melintasi 3 provinsi D.I.Y – D.K.I Jakarta- Lampung. Tapi, yang terdokumnetasi hanya saat di Lampung, karena di Jakarta hanya sekedar transit.

 

Bandar Lampung Tapis Berseri: di belakang tulisan tersebut merupakan Kantor Balai Kota

Berhubung hanya dua hari,jadi tidak banyak yang bisa dibagi disini. Tapi, semoga lain kesempatan bisa merasai Lampung dengan lebih seksama. Tidak perlu terburu oleh waktu dan berurusan dengan kebut-kebutan takut ketinggalan pesawat lagi . Hehe..

Pada jaman pemerintahan orde baru, Lampung adalah daerah tujuan transmigrasi pertama di Indonesia. Wilayah di Lampung kebanyakan masih hijau, yang jelas masih lebih banyak lahan kosong. Jangan dibandingkan dengan Jawa yang padat penduduk. Yang namanya kebun sawit masih dapat ditemui di pinggir jalan raya menuju bandara (jangan dibandingin lagi sama jalan menuju Adi Sucipto yaaa..)

kebun sawit di kanan kiri jalan raya

Kalau menurut saya, Lampung mirip dengan Semarang. Little Semarang, kota dengan contour naik turun dan tentu saja lebih sepi dibanding Semarang.  Di barat dan timur terdapat pegunungan, jadi seakan-akan kotanya berupa lembah antra dua pegunungan. Karena kebetulan berada di Lampung Selatan jadi dekat dengan lautan. Teluk Lampung dengan background Bukit Barisan, ihwow banget kalau inget gambaran itu. Lagi-lagi hanya bisa dinikmati dengan mata.

bundaran gajah

Kata Keluarga Sinaga yang menemani saya selama di Lampung, bundaran ini “Bundaran HI”-nya Lampung, pusat Kota-nya. Bahkan tidak seramai perempatan Depan Masjid Agung Bantul.  Saya juga tidak tahu nama bunderanya apa, saya menyebutnya gajah karena banyak patung gajahnya, maskot Lampung. Walaupun kotanya kecil dan sepi, namun pengaturan kotanya nampak baik.

Karena hanya sebentar saja di Lampung, jadi tidak banyak tempat yang bisa dikunjungi. Satu setengah jam sebelum pulang, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Masjid Agung Al-Furqaan Bandar Lampung. Sayang tidak bisa masuk ke dalamnya, bahkan akses menuju tempat wudhu tertutup gerbangnya. Jadi harus puas sampai serambinya.

Masjid Agung dan menara

dan akhirnya saya mendapat kejutan di serambi masjid yang berada di lantai 2 Masjid Agung tersebut. Ketika saya melihat ke arah selatan nampak Teluk Lampung dengan Bukit Barisan dengan aktivitas kapal-kapal.

Teluk Lampung

Sebenarnya di balik rumah-rumah ini nampak di kejauhan adalah Teluk Lampung, sayang dokumentasi tidak memadai. Di kanan dan kiri nampak ujung dari perbukitan yang membentuk teluk tersebut.(hadeeee..foto minimalis). Ketutupan kabut,matahari belum muncul sepenuhnya. Mungkin akan lebih jelas jika hari cerah atau kalau mau lebih jelas lagi ya datang dan melihat langsung.

Jalan-jalan singkat pagi saya berakhir dengan penemuan makanan serupa leker.

Kue Afe

Sama-sama terbuat dari tepung beras dan proses pembuatanya pun mirip. Hanya warnanya saja yang berbeda, leker a la Lampung ini berwarna hijau, pada adonannya ditambahkan pasta pandan (atau pasta apa yaa,maap lupa.heheheh). Kue ini garing di bagian pinggirnya, sedangkan tengah adonannya lebih tebal dan legit. Rasa kue ini juga tidak semanis leker Jawa walau ada tambahan meises di atasnya.

 

Sejujurnya, saya masih sangat penasaran dengan lautan dan pantai yang saya lihat saat dalam perjalanan melalui jalan lingkar Sumatera. Lautan sudah seperti halaman belakang rumah penduduk yang berada di wilayah Panjang, Lampung Selatan yang juga merupakan wilayah industri.

 

Mungkin lain kali jika ada kesempatan, saya akan datang lagi.

 

Going Home : Andalas and Sunda Starit

Andalas and Sunda Strait

See u Amazing Andalas!!!

MEDHARezaIrmaAmil

heal..

bebarapa waktu yang lalu kru jajan sembarangan mengalami kecelakaan. menyundul becak lebih tepatnya. dalam kecepatan yang tidak terlalu rendah mengakibatkan kerusakan yang umayan, baik pada pengendara maupun kendaraan yang ditumpangi. tak perlu disebut juga kerusakan pada becak yang naas, ringsek.

namun disini saya tidak akan bercerita tentang kejadian tersebut. banyak hal yang dapat dipelajari bahkan dari hal hal kecil seperti kecelakaan ini. saya akan bercerita tentang pelajaran yang saya dapatkan dalam masa penyembuhan pasca kecelakaan ini.

the heal.

ya penyembuhan pasca kecelakaan, masa masa ini lebih sering saya ingat sebagai masa paling membosankan. badan yang belum pulih, sendi sendi yang belum optimal, lecet lecet yang menempel pada kulit, kadang ditambah dengan patah tulang yang ampuun lama banget sembuhnya. sehingga lebih sering dihabiskan dengan aktivitas ringan, dan sering ber buah pada renungan.

kecelakaan kali ini saya menadapat lecet yang lumayan pada daerah kaki, beserta lecet lecet kecil disekitarnya. luka pada bagian kaki memang biasanya memerlukan watu lebih lama untuk sembuh, selain karena banyak berggerak, luka di kaki juga mudah sekali terkena kotoran. pada awalnya saya memutuskan untuk membiarkan luka tersebut terbuka dengan harapan agar cepat kering dan sembuh, sebuah keputusan yang akan saya sesali kemudian.

dua minggu setelah kejadian, saya merasa luka yang saya derita bukanya malah semakin membaik tapi semakin aneh, kalau tidak bisa dibilang semakin parah. tentu saja bukan karena luka tersebut tidak ‘menyembuh’ tapi karena salah asuh. Akhirnya saya memutuskan untuk membawa kaki tercinta ini ke klinik untuk mendapat perawatan lebih lanjut, berharap diberi perawatan yang memadai.

setelah berbicang dengan dokter, tibalah saat mengambil tindakan. betapa terkejut saya ketika tahu apa yang dilakukan dokter, beliau membuka luka lama yang tak kunjung sembuh itu, membuat luka baru diatas luka lama, kemudian membersihkannya, menutupnya dengan kain kasa agar tidak terpapar kotoran dari luar. beliau menjanjikan jikalau luka ini dirawat dengan baik maka dalam beberapa hari akan sembuh.

ya ketika terdapat luka yang tak kunjung sembuh, mungkin bukan karena luka itu tidak mau sembuh, tetapi mungkin karena cara mengobati-nya yang kurang tepat. walaupun begitu alangkah lebih baik ketika kita dapat mencegah terjadinya luka.

MedhaRezaIrmaAMIL

latitude

Google latitude

Tertulis di halaman depannya bahwa tujuan dari Google Latitude (sebut saja GL) ini adalah untuk tetap dekat dengan teman mereka, menemukan teman yang lokasinya dekat sehingga memungkinkan pertemuan..

Sungguh cara baru untuk berhubungan dengan teman-teman kita. Akan tetapi apakah tidak terlalu naif akan kehadiran GL ini? atau mungkin bisa kita maknai lebih lanjut?

Dari perspektif saya, hal ini adalah hal yang menyenangkan untuk tetap terhubung dengan teman-teman. Alih-alih putus hubungan karena kita tidak tahu kabar teman itu, melalui GL hubungan pertemanan dapat kita jaga sekedar dengan bertemu sejenak jika memungkinkan dan jika lokasinya cukup dekat..sungguh sebuah kemudahan.

Terkadang, muncul juga stigma kalau GL ini adalah sarana pengunti/stalking yang baru. Beberapa orang mungkin tidak nyaman untuk diketahui posisi mereka. Sebagian mungkin merasa terancam dengan diumumkannya posisi mereka di dunia maya. Well itu pilihan dalam menyikapi sebuah fenomena GL sederhana ini.

Apabila ditelaah lebih jauh

People in your google latitude are your friend ‘aite?

Bagaimana kita membangun pertemanan yang tulus dan jujur dan menyambut pertemanan dengan indah?

Bagaimana kita memberikan sebuah tawaran pertemanan ke dalam dunia di sekitar kita?

Bagaimana kalau menilik lebih dalam ke diri kita..sebenarnya sepenting apakah kita di mata teman-teman kita..

Sepenting apakah keberadaan kita di dunia sampai ada “teman” yang bermaksud menguntit?

Yang lebih penting adalah siapa kita?

mungkin jawabannya bisa direnungkan masing-masing individu, keberadaan kita, di tengah teman-teman kita, di antara jejaring di dunia. Sebagian orang ingin memperbesar jejaring itu seluasnya, sebagian nyaman dengan lingkaran kecil yang dimiliki. Sebagian orang terlalu sombong untuk menunjukkan eksistensinya, sebagian orang terlalu arogan untuk membagi dunianya..

..sebagian..

bagaimana dengan anda?

MedhaREZAIrmaAmil

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.