Menilik kembali blog ini setelah sekian lamanya. Pun tanpa update terbaru membuat saya gatel untuk bercerita disini. Apa kabar Im, Me, Cum? Apakah dunia masih tetap ramah dan hangat saat jarak, ruang, dan waktu memisahkan ? Eits, saya ga mau terlalu mellow hellow mengawali cerita baru disini. Tapi mendadak saya kangen dengan kehadiran mereka. Sungguh. Tiap dari mereka seakan melengkapi saya.
*celingak-celinguk cari tissue*
Baiklah, saya hanya akan membagi cerita ringan saja disini, cerita sedikit tentang ibukota. Kurang lebih 3 bulan saya mencoba berdamai dengan kota yang bahkan tidak pernah ada dalam list daftar tempat untuk saya tinggali. Namun, saya tidak akan panjang lebar bercerita kenapa pada akhirnya petualangan saya harus berlanjut di kota yang menyeramkan ini.
Sangat menyeramkanketika mendengar kabar tentang kabar kriminalitasnya, tentang kehidupan yang serba keras, tentang banjir, tentang macet, tentang kekacauan pusat pemerintahan, tentang polusi yang mengancam nyawa, tentang issue tenggelamnya. Tapi, entah mengapa sejauh ini dengan berbagai kekacauan yang terjadi itu, saya masih merasa bahwa kota yang kabarnya lebih kejam terhadap ibu tiri ini masih ramah.
Jujur, macet yang menjadi makanan sehari-hari disini sepertinya sudah menjadi pemakluman bagi siapa saja. Bahkan bagi saya yang notabene pendatang. Terlalu banyak orang sementara sarana dan prasarana transportasi tidak memadai mobilitas tinggi para penduduk yang jumlahnya jutaan. Selama di Jogja, saya selalu mengandalkan motor untuk aktivitas harian. Namun di kota ini, saya harus berpikir berkali-kali untuk mengendarai motor ini. Hingga pada akhirnya transportasi umum menjadi andalan saya. Sebut saja TransJakarta, mikrolet, kopaja, patas, metro mini, taksi, bahkan bajaj sangat bisa diandalkan dalam keseharian.
Memang kehadiran transportasi umum tidak seketika mengatasi masalah kemacetan maupun masalah turunan dari macet itu sendiri. Tapi setidaknya dengan banyaknya manusia yang memanfaatkan kendaraan umum akan mengurangi kepadatan mobil pribadi di jalan raya ibu kota. Akan menjadi tidak terbayangkan ketika bejibun orang yang berjubel dalam angkot setiap harinya lebih memilih kendaraan pribadi. Jika itu terjadi mungkin arus lalu lintas jalanan menjadi tidak bergerak karena macet akanterjadi hanya dalam hitungan tahunan saja. Seraaaam.
Ketika seseorang mengandalkan kendaraan umum maka mau tidak akan menjadi pedestrian sekaligus. Berjalan dulu demi menuju halte busway atau menuju jalan rute angkutan umum yang akan membawa ke tempat tujuan. Lagi-lagi sarana prasana untuk pedestrian pun tidak memadai. Trotoar beralih fungsi menjadi tempat jualan kaki lima, trotoar di atas gorong-gorong saluran air yang berlubang, trotoar berlubang yang ketika hujan menjadi kubangan air yang becek. Tidak mengherankan ketika berjalan di kota ini, sakit dan lecet kaki menjadi efek samping yang tidak dapat dielakkan. Belum lagi ditambah panas dan polusi yang berkepanjangan akibat sedikitnya lahan hijau di kanan kiri jalan yang harus rela ditebas demi fly over yang bahkan tidak memecahkan masalah kemacetan.
Memang kalau diperhatikan pedestrian adalah pihak yang kurang diuntungkan pada kondisi ini. Berebutan area pejalan dengan para pengendara kendaraan. Ketika area pejalan kaki terenggut mau tidak mau pejalan terpaksa mlipir di tepian jalanan aspal dengan resiko diklakson para pengendara motor yang tidak sabaran karena merasa perjalanannya terhambat. Kadang kalau sedang kesal saya pura-pura tidak dengar ada suara motor dan jalan santai di atas trotoar ketika dari arah belakang saya ada motor yang lewat di trotoar untuk menembus kemacetan. Terkadang menyeberang jalan pun menjadi hal yang sangat sulit dilakukan disini. Serba salah ya jadi pedestrian.
Tanpa mau mencari apa atau siapa yang salah dari carut marut transortasi di kota ini, saya mau berbagi enaknya menjadi pedestrian. Dengan menjadi pejalan kaki kita akan menjadi pengamat yang baik. Ketika berkendara dengan motor atau mobil kita pasti terpacu untuk berkendara dengan kecepatan tinggi dan ingin sampai tujuan dengan segera kan? Bayangkan betapa banyak hal yang kadang terlewat ketika kita fokus ke kendali kendaaran kita. Dan ketika kita menurunkan kecepatan dengan berjalan kaki, maka kita akan menjadi lebih ‘ngeh’ dengan apa-apa saja yang ada di sekitar kita. Misal, sadar kalau ada banyak warung makan Aceh di dekat kos atau ternyata ada dua abang penjual siomay yang jualan di jalan pulang kerja menuju kos.
Sedikit tips ketika menjadi pedestrian adalah:
- Kenakanlah pakaian yang nyaman untu berjalan kaki.
Dengan berjalan maka sedikit banyak kita akan berkeringat, pakailah baju yang nyaman dan sekiranya dapat menyerap keringat.
2. Pakailah sandal atau platform shoes
Memakai sandal jepit atau flat shoes yang nyaman akan sangat mendukung perjalanan kita. pakailah alas kaki yang dapat memberikan kenyamanan saat berjalan serta tidak membuat kaki lecet-lecet. Pengalaman saya, sandal biasa pun menjadi tidak nyaman saat kaki kita terasa panas menopang tubuh, alhasil alas kaki saya pun menjadi panas, maka pilihlah alas kaki dengan bahan yang ramah dengan kaki kita. eh tapi, kadang saya heran juga sama mbak-mbak yang pakai heels atau wedges untuk jalan-jalan. Bahkan sering takjub ketika mereka berlarian mengejar angkot
3. Menggunakan tas punggung
Menurut saya ini pilihan ideal seorang pejalan kaki. Berdasarkan pengalaman mengenakan shoulder bag yang tidak rata membagi beban hingga pada akhirnya malah pegel sebelah karena keberatan beban di sebelah bahu saja. Tapi pilihan kembali ke kesukaan masing-masing orang
4. Membawa payung lipat
Ini adalah peripheral wajib punya seorang pedestrian. tidak membawa satu barang ini maka berantakanlah seluruh timeline . Tidak terbayangkan harus terjebak hujan, menuggu hingga reda untuk melanjutkan kembali perjalanan kita. bahkan sebenarnya payung pun bisa berguna saat panas. Multifungsi kan? pastikan benda ini ada di tas ketika bepergian
5. Membawa tumbler
Berkeringat setelah berjalan jauh membuat kita kehilangan sedikit cairan. Hingga akhirnya membuat haus. Maka bawalah tumbler atau tempat minum sebagai pertolongan pertama saat haus. Menurut saya, bagi seorang pedestrian wajib hukumnya untuk punya dan membawa tumbler berisi air minum.
6. Membawa beauty case
Biar kemana pun dan dimana pun penampilan itu memang bukan yang utama, tapi tetaplah yang pertama. Usahakn untuk selalu tampil oke walaupun kita telah menempuh berjalan jauh. Berkeringat bukan alasan kita untuk datang dalam keadaan kucel setelah berjalan kaki. Sempatkanlah ke kamar mandi untuk merapikan diri maupun sedikit berdandan kembali agar tampil prima setelah sampai di tujuan
7. Pakailah masker
Polusi debu kendaraan bermotor sangat tinggi di kota ini, bahkan hingga mengganggu kesehatan pernafasan. Pakailah masker saat berjalan kaki atau naik angkutan umum di ibu kota. Walaupun saya tidak dapat menjamin 100% efektivitasnya mengamankan pernafasan kita dari partikel debu berukuran mikro tersebut, paling tidak kita tidak menghirup bau-bauan asap secara langsung yang dapat membahayakan kesehatan. manfaat lainnya adalah untuk mencegah udara kotor bersentuhan dengan kulit kita yang dapat berakibat muka kotor, timbul jerawat hingga kulit muka tidak sehat.
8. Rutin makan buah
Untuk mereka yang memiliki kesibukan kerja tinggi, bisa dibilang waktu untuk berolah raga sangat sempit. Mungkin, sakah satu olah raga yang dapat dilakukan adalah dengan berjalan kaki tadi. Maka, untuk menyeimbangkan kesehatan tubuh dari asupan dalam tubuh, rajin-rajinlah makan buah-buahan, khususnya yang mengandung antioksidan tinggi. Antioksidan tinggi dapat diperoleh dari jeruk, buah naga, kiwi, atau pun buah pome. Antioksidan akan melawan radikal bebas yang berasal dari polusi yang kita temui setiap hari, atau bahkan dalam makanan yang kita makan. Radikal bebas dapat berpotensi menjadi sel kanker yang membahayakan tubuh. Maka rajin-rajinlah konsumsi buah.
Semoga tips ini berguna ya. ;)
Menulis tentang transportasi mendadak saya jadi ingat sebuah quote, kurang lebih begini “untuk mengetahui kemampuan pemerintah mengatur Negara maka lihatlah kemampuannya mengatur transportasinya”.
Sedikit tambahan, berdasarkan pengamatan saya ‘untuk melihat watak ataupun kepribadian seseorang sebenarnya lihat dan kenalilah saat mereka menjadi pengguna jalan, menajdi pengendara ataupun sekedar pejalan kaki ’.
RezaMEDHAIrmaAmil






















